MARI BACA DOA

gif islamic
Showing posts with label Movie. Show all posts
Showing posts with label Movie. Show all posts

Tuesday, 27 March 2012

Ketika Cinta Bertasbih...

Inilah hasilnyer jika aku dilanda sakit kepala....tiga hari terlantar....dan selebihnyer layan movie...movie...dan movie lagi....huhu....baru-baru ni aku layan cerita Indonesia...Ketika Cinta Bertasbih...aku suka sangat....tiada adegan berpegangan tangan dengan bukan mahram walaupun para pelakon melakonkan watak suami isteri....aku respek kepada mereka kerana boleh mengawal ikhtilat dalam dunia lakonan....aku amat berharap jika suatu hari nanti, anak bumi Malaysia juga turut mencontohi cara lakonan dari negara jiran kita ini....dan lagi bagus jika ia dijadikan cara hidup....aihss...berceramah lah pulak...

Sebelum kalian baca sinopsis cerita di bawah....nak cerita sikit pasal perkembangan Solehah sekarang....Alhamdulillah...Semalam anak Umi, Iman Solehah yang berusia 4 bulan 2 minggu dah pandai meniarap....




Sinopsis
Abdullah Khairul Azzam – 28 tahun- pemuda tampan dan cerdas dari sebuah desa di Jawa Tengah. Dari kecil, Azzam sudah terlihat sebagai anak yang sangat baik budi pekertinya. Atas usahanya yang gigih dia berhasil memperoleh bea siswa untuk belajar di Al Azhar Mesir selepas menamatkan Aliyah di desanya.
Baru setahun di Kairo dan menjadi mahasiswa berprestasi peraih predikat Jayyid Jiddan (Lulus dengan Sempurna), ayahnya meninggal dunia. Sebagai anak tertua Azzam mau tidak mau harus bertanggung jawab atas kehidupan keluarganya, dikarenakan adiknya masih kecil-kecil. Sementara itu, dia sendiri harus menyelesaikan studinya di Negara orang. Akhirnya dia mulai membagi waktu untuk belajar dan mencari nafkah. Ia mulai membuat tempe dan bakso yang ia pasarkan di lingkungan KBRI dia Kairo. Berkat keahlian dan keuletannya dalam memasak, Azzam menjadi populer dan dekat dengan kalangan staf KBRI di Cairo. Tapi hal itu berimbas pada kuliah Azzam, sudah 9 tahun berlalu, ia belum juga menyelesaikan kuliahnya.

Seringnya Azzam mendapatkan job di KBRI Cairo mempertemukan ia dengan Puteri Duta Besar, Eliana Pramesthi Alam. Eliana adalah lulusan EHESS Perancis yang melanjutkan S-2 nya di American University in Cairo. Selain cerdas, Eliana juga terkenal di kalangan mahasiswa karena kecantikannya. Ia bahkan pernah diminta main di salah satu film produksi Hollywood, juga untuk Film layar lebar dan Sinetron di Jakarta. Segudang prestasi dan juga kecantikan Eliana membuat Azzam menaruh hati pada Eliana. Tetapi Azzam urung menjalin hubungan lebih dekat dengan Eliana, karena selain sifat dan kehidupannya yang sedikit bertolak belakang dengan Azzam, juga karena nasihat dari Pak Ali, supir KBRI yang sangat dekat dengan keluarga Eliana.
Apa yang dikatakan Pak Ali cukup terngiang-ngiang di benaknya, bahwa ada seorang gadis yang lebih cocok untuk Azzam. Azzam disarankan untuk buru-buru mengkhitbah (melamar) seorang mahasiswa cantik yang tak kalah cerdasnya dengan Eliana. Dia bernama Anna Althafunnisa, S-1 dari Kuliyyatul Banaat di Alexandria dan sedang mengambil S-2 di Kuliyyatul Banaat Al Azhar – Cairo, yang juga menguasai bahasa Inggris, Arab dan Mandarin. menurut Pak Ali, kelebihan Anna dari Eliana adalah bahwa Anna memakai jilbab dan sholehah, bapaknya seorang Kiai Pesantren bernama Kiai Luthfi Hakim.
Ada keinginan Khaerul Azzam untuk menghkhitbah Anna walaupun ia belum pernah bertemu atau melihat Anna. Karena tidak punya biaya untuk pulang ke Indonesia, Pak Ali menyarankan supaya melamar lewat pamannya yang ada di Cairo, yaitu Ustadz Mujab, dimana Azzam sudah sangat mengenal ustadz itu. Dengan niat penuh dia pun datang ke ustadz Mujab untuk mengkhitbah Anna Althafunnisa. Tapi ternyata lamaran itu ditolak atas dasar status. Karena S-1 Azzam yang tidak juga selesai, dan lebih dikenal karena jualan tempe dan baso. Selain itu, Anna telah dikhitbah lebih dulu oleh seorang pria yang alih-alih adalah Furqon, sahabat Azzam yang juga mahasiswa dari keluarga kaya yang juga cerdas dimana dalam waktu dekat akan menyelesaikan S-2 nya. Azzam bisa menerima alasan itu, meskipun hatinya cukup perih.
Tetapi kemudian Furqon mendapat musibah yang sangat menghancurkan harapan-harapan hidupnya. Hal tersebut membuatnya menghadapi dilemma antara ia harus tetap menikahi Anna yang telah dikhitbahnya, tetapi itu juga sekaligus akan dapat menghancurkan hidup Anna.
Sementara itu Ayyatul Husna, adik Azzam yang sering mengirim berita dari kampung, membawa kabar yang cukup meringankan hati Azzam. Agar Azzam tidak perlu lagi mengirim uang ke kampung dan lebih berkonsentrasi menyelesaikan kuliahnya. Karena selain Husna telah lulus kuliah di UNS, ia juga sudah bekerja sebagai Psikolog. Keahlian Husna dalam menulis sudah membuahkan hasil. Penghasilan Husna cukup dapat membiayai kebutuhan adiknya yang mengambil program D-3, serta adik bontotnya yang bernama Sarah yang masih mondok di Pesantren.
Azzam yang sudah sangat rindu dengan keluarganya memutuskan untuk serius dalam belajar, hingga akhirnya berhasil lulus. Azzam pun menepati janjinya ke keluarganya untuk kembali ke kampong dan segera mencari jodoh di sana, memenuhi amanat ibunya. Walaupun sebenarnya masih terbersit sedikit harapan untuk tetap mendapatkan hati Anna.
Apakah mungkin Azzam akan berjodoh dengan Anna? Ataukah Eliana yang sebenarnya juga masih penasaran dengan Azzam? Ataukah Azzam berhasil menemukan tambatan hatinya di Indonesia?..



Sunday, 19 February 2012

Filem KAMI 1982

Hujung-hujung minggu macam ni....aktiviti yang boleh aku lakukan bersama-sama Solehah...tanpa memerlukan tumpuan......santai-santai jer....seperti aktiviti melayan movie melalui Youtube....ketika aku mencari-cari apa movie yang menarik untuk ditengok...terjumpa filem ni....KAMI...lakonan pertama Allahyarham Sudirman Haji Arshad iaitu pada tahun 1982...sebenarnyer dah lama aku mencari movie ni...tapi tak terjumpa....huhu....seingat aku.....aku pernah menonton filem ni semasa aku kecik....tapi aku tak ingat bila...sedih giler cerita ni....huhu....banyak pengajaran yang didapati daripada cerita ni....
  




Sinopsis

KAMI mengangkat watak Tookoo, remaja berusia 17 tahun yang inginkan kebebasan dan mencari kehidupan sendiri. Hobinya suka menyanyi. Namun, taraf pelajaran Tookoo yang terkandas setakat darjah lima tidak menjanjikan apa-apa dalam hidupnya. 



Ibunya sudah meninggal dunia, dia tinggal bersama ibu tiri dan bapanya.


Lalu, dia cuba berjuang meneruskan hidup dengan melakukan sebarang kerja yang dapat memberikannya sesuap nasi. Disebabkan tidak serasi dengan ibu tirinya, dia berhijrah ke Kuala Lumpur. 


Di sana, Tookoo bertemu dengan Din, seorang kanak-kanak terbiar berusia 11 tahun yang buta huruf. Din tinggal bersama makciknya yang selalu menderanya. Oleh sebab itu, Din pun melarikan diri dan ingin mencari ibu kandungnya. 


Suatu hari semasa hujan, Din minta berteduh di tempat berlindung Tookoo iaitu sebuah banglo yang ditinggalkan. Bertemu Tookoo membuatkan Din rasa dihargai meskipun pada mulanya kehadirannya kurang disenangi Tookoo. Mereka tinggal dan mencari pekerjaan bersama dalam situasi gembira malah Din menganggap Tookoo umpama seorang abang dan juga bapa bagi dirinya.

Sejak itu, Din dan Tookoo menjadi kawan baik. Di situlah bermulanya “KAMI”. Pelbagai bentuk halangan dan rintangan yang mereka hadapi dalam meneruskan hidup.

Begitu pun, kehadiran pegawai kebajikan masyarakat untuk mengambil Din yang dianggap tidak memiliki keluarga menimbulkan situasi sedih keduanya. Mereka terpaksa berpisah kerana Tookoo juga beranggapan Din wajar tinggal bersama keluarga angkat untuk meneruskan persekolahannya.


Sumber: http://chedinsphere.blogspot.com/2011/03/sudirman-sudirman-hj-arshad-25-mei-1954.html



Jika kalian tengok citer ni....mesti kalian perasan...pada tahun 1982....harga jagung rebus sebatang RM 0.20....tapi selepas 30 tahun...harga jagung rebus naik 7 kali ganda....iaitu sekarang lebih kurang  RM 1.50...huhu...sekarang serba-serbinyer mahal....

Friday, 10 February 2012

Hafalan Shalat Delisa

Aku menonton filem ni menerusi ladtop jer...aku download dari internet...teruja apabila ramai memuji filem ni dalam facebook....sebenarnyer aku agak ketinggalan...filem ni di tayangkan di Indonesia pada Disember tahun lepas....mungkin untuk memperingati kejadian bencana Tsunami yang melanda Acheh pada Disember tahun 2004...

Kesimpulannyer setelah menonton filem ni....aku suka sangat....sebab cerita ni banyak memberi pengajaran....dan menunjukkan bertapa besarnyer kekuasaan Allah.....tahniah kepada semua yang terlibat.....






Sinopsis

Delisa (Chantiq Schagerl) gadis kecil kebanyakan yang periang, tinggal di Lhok Nga desa kecil di pantai Aceh, mempunyai hidup yang indah. Sebagai anak bungsu dari keluarga Abi Usman (Reza Rahadian), Ayahnya bertugas di sebuah kapal tanker perusahaan minyak Internasional. Delisa sangat dekat dengan ibunya yang dia panggil Ummi (Nirina Zubir), serta ketiga kakaknya yaitu Fatimah (Ghina Salsabila), dan si kembar Aisyah (Reska Tania Apriadi) dan Zahra (Riska Tania Apriadi)





26 Desember 2004, Delisa bersama Ummi sedang bersiap menuju ujian praktek shalat ketika tiba-tiba terjadi gempa. Gempa yang cukup membuat ibu dan kakak-kakak Delisa ketakutan. Tiba-tiba tsunami menghantam, menggulung desa kecil mereka, menggulung sekolah mereka, dan menggulung tubuh kecil Delisa serta ratusan ribu lainnya di Aceh serta berbagai pelosok pantai di Asia Tenggara



Delisa berhasil diselamatkan Prajurit Smith, setelah berhari-hari pingsan di cadas bukit. Sayangnya luka parah membuat kaki kanan Delisa harus diamputasi. Penderitaan Delisa menarik iba banyak orang. Prajurit Smith sempat ingin mengadopsi Delisa bila dia sebatang kara, tapi Abi Usman berhasil menemukan Delisa. Delisa bahagia berkumpul lagi dengan ayahnya, walaupun sedih mendengar kabar ketiga kakaknya telah pergi ke surga, dan Ummi belum ketahuan ada di mana



Delisa bangkit, di tengah rasa sedih akibat kehilangan, di tengah rasa putus asa yang mendera Abi Usman dan juga orang-orang Aceh lainnya, Delisa telah menjadi malaikat kecil yang membagikan tawa di setiap kehadirannya. Walaupun terasa berat, Delisa telah mengajarkan bagaimana kesedihan bisa menjadi kekuatan untuk tetap bertahan. Walau air mata rasanya tak ingin berhenti mengalir, tapi Delisa mencoba memahami apa itu ikhlas, mengerjakan sesuatu tanpa mengharap balasan



‘Delisa cinta Ummi karena Allah’